SonicSpirits.com -PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menekankan bahwa perubahan iklim berpotensi menurunkan kualitas aset dan mengganggu stabilitas permodalan bank. Ancaman ini muncul dari risiko fisik, seperti kerusakan aset debitur akibat bencana alam, serta risiko transisi yang terkait dengan perubahan kebijakan mitigasi iklim.
Ajeng Sekar Putih, Group Head Environmental, Social, and Governance Group BRI, menjelaskan mekanisme transmisi risiko fisik dari debitur ke perbankan. “Saat terjadi bencana, misalnya banjir, aktivitas ekonomi regional terganggu, dan debitur terdampak secara langsung,” ujarnya dalam webinar OJK Institute, Kamis.
Akibatnya, arus kas debitur menurun, aset dan agunan rusak, sehingga kinerja kredit memburuk. Bank harus merespons cepat agar sistem keuangan tetap stabil. Risiko ini menjadi perhatian utama industri perbankan karena potensi kerugian yang bisa memengaruhi seluruh ekosistem keuangan.
Baca juga:“Menaker Sebut Upah Minimum Harus Makin Dekat dengan KHL”
BRI Ungkap Risiko Iklim Turunkan Pinjaman dan Dorong Kenaikan NPL Bank
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menekankan bahwa perubahan iklim berpotensi menurunkan kualitas aset perbankan dan menggerus modal jika tidak ditangani.
Berdasarkan penelitian OJK terkait dampak perubahan iklim pada penyaluran kredit bank selama 2011–2021, tingkat outstanding loan menurun 2–4 persen di wilayah terdampak banjir. Sebagai respons, sejumlah bank meningkatkan suku bunga kredit 5–15 basis poin (bps). Sementara itu, tingkat kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL) naik 0,15–0,30 bps setelah banjir.
Ajeng Sekar Putih, Group Head ESG BRI, menjelaskan bahwa risiko iklim tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga transisi. Risiko transisi muncul akibat perubahan kebijakan, teknologi, dan preferensi pasar menuju ekonomi rendah karbon. Ia menekankan bahwa risiko transisi bersifat sistemik dan bertahap, namun dapat menurunkan kualitas aset secara signifikan.
BRI Waspadai Risiko Sistemik dari Konsentrasi Portofolio dan Perubahan Iklim
Ajeng Sekar Putih, Group Head ESG BRI, menjelaskan bahwa risiko ini bisa menurunkan kualitas aset secara luas dan meningkatkan kebutuhan pencadangan bank. “Ketika kualitas aset menurun, otomatis pencadangan naik dan stabilitas permodalan bank terganggu,” ujarnya.
Menurut Ajeng, risiko sistemik muncul jika bank tidak mendiversifikasi portofolionya atau tidak menyesuaikan strategi dengan perubahan kebijakan iklim yang berlaku. Hal ini dapat memicu kerentanan finansial berskala luas.
BRI menekankan perlunya pendekatan manajemen risiko yang komprehensif, termasuk pemetaan portofolio berbasis risiko iklim, penguatan monitoring aset, serta perencanaan pencadangan yang adaptif. Tujuannya menjaga kesehatan aset, mencegah lonjakan NPL, dan mempertahankan modal inti bank.
Selain mitigasi internal, Ajeng menekankan pentingnya kolaborasi industri perbankan dengan regulator dan lembaga terkait. Hal ini bertujuan memastikan implementasi kebijakan transisi iklim efektif, sekaligus mendukung stabilitas sektor keuangan nasional.
Baca juga:“IHSG Bangkit Ikuti Bursa Global Usai Trump Cabut Ancaman Tarif ke Eropa”