SonicSpirits.com -Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai minat Danantara masuk ke BEI bersifat strategis.
Ia melihat keterlibatan tersebut sebagai upaya memperkuat kelembagaan pasar modal nasional.
Yusuf menjelaskan demutualisasi bertujuan mendorong profesionalisme pengelolaan bursa.
Menurutnya, proses ini diarahkan agar BEI menjadi lebih transparan dan akuntabel.
Perubahan struktur kepemilikan dinilai membuka ruang perbaikan tata kelola.
“Demutualisasi diarahkan untuk memperkuat tata kelola bursa,” kata Yusuf kepada ANTARA di Jakarta.
Ia menekankan pentingnya peran pemegang saham strategis dalam fase transisi.
Peran tersebut harus mendukung stabilitas dan keberlanjutan pasar.
Yusuf menyebut Danantara berpotensi berfungsi sebagai investor strategis.
Ia menilai peran itu efektif jika fokus pada penguatan manajemen risiko.
Modernisasi infrastruktur pasar juga menjadi faktor penting dalam penguatan bursa.
Baca juga:“BI Luncurkan Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2025”
Ekonom Soroti Keseimbangan Peran Danantara di BEI Pasca-Demutualisasi
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menekankan pentingnya menjaga keseimbangan peran Danantara di BEI.
Ia menilai keterlibatan badan tersebut harus mendukung stabilitas pasar tanpa mengurangi independensi bursa.
Yusuf mengatakan keterlibatan Danantara bisa menimbulkan persepsi pengaruh kebijakan berlebihan.
Menurutnya, transparansi bursa harus kuat secara administratif dan dipercaya pelaku pasar.
Hal ini penting untuk menjaga kredibilitas BEI sebagai institusi pasar modal yang netral.
“Jika posisi Danantara dirancang proporsional dengan tata kelola jelas, kehadirannya dapat memperkuat profesionalisme BEI,” ujarnya.
Ia menekankan mekanisme kepemilikan dan hak suara harus transparan dan sesuai prinsip good corporate governance.
Sebaliknya, Yusuf memperingatkan risiko intervensi berlebihan.
Jika ruang pengaruh tidak diatur dengan baik, mekanisme pasar dapat menjadi kurang market driven.
Hal ini berpotensi menurunkan kepercayaan investor dan efektivitas pasar.
Pemerintah Percepat Aturan Demutualisasi BEI dan Skema Kepemilikan Baru
Pemerintah mempercepat penyelesaian aturan demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) agar proses bisa berjalan tahun ini.
Demutualisasi diharapkan memperkuat tata kelola, transparansi, dan profesionalisme bursa nasional.
Rosan, pihak terkait dalam proses, menyebut skema masuknya investor strategis masih dikaji.
Opsi yang dipertimbangkan antara lain penawaran umum perdana saham (IPO) atau mekanisme lain.
Kajian bertujuan menemukan struktur kepemilikan terbaik dalam rangka memisahkan fungsi pengelola dan anggota bursa.
Demutualisasi merupakan perubahan status BEI dari organisasi berbasis keanggotaan atau Self-Regulatory Organization (SRO).
Sebelumnya, bursa dimiliki oleh perusahaan sekuritas anggota.
Setelah demutualisasi, BEI menjadi entitas perusahaan yang dapat dimiliki publik atau pihak lain.
Baca juga:“Harga Emas Antam Melonjak Dalam Dua Kali Sehari, Kini Rp3,003 Juta per Gram”