TPI Harapan Baru Perkuat Perdagangan Perikanan Kaltim
Pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Harapan Baru di Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, memasuki tahap akhir sebelum beroperasi penuh.
Fasilitas senilai Rp8 miliar tersebut dirancang untuk memperkuat perdagangan hasil perikanan sekaligus membuka akses pasar yang lebih dekat bagi nelayan dan pedagang.
Wali Kota Samarinda Andi Harun meninjau fasilitas itu sebelum peresmian. Ia memastikan pembangunan yang telah mencapai 100 persen tidak berhenti pada penyelesaian fisik.
“Keberhasilan proyek ini bukan diukur dari betonnya, tapi yang paling penting adalah bagaimana fungsi dan manfaatnya bagi masyarakat,” ujar Andi Harun.
Pemerintah menargetkan TPI Harapan Baru mulai beroperasi sekitar pertengahan Agustus 2026. Kehadirannya sekaligus menjadi bagian dari momentum menyambut peringatan ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Fasilitas TPI Harapan Baru Dilengkapi Gudang Pendingin
TPI Harapan Baru memiliki gudang pendingin berkapasitas 120 ton dan 22 lapak perdagangan. Fasilitas tersebut dirancang untuk menciptakan aktivitas perdagangan ikan yang lebih tertata, bersih, dan nyaman.
baca juga: Inflasi Juli 2026 Diproyeksikan Melandai
Keberadaan gudang pendingin juga memungkinkan hasil tangkapan disimpan sebelum dipasarkan. Dengan demikian, nelayan tidak selalu harus menjual ikan dengan cepat ketika pasokan sedang melimpah.
Pemerintah juga menyiapkan fasilitas pendukung seperti akses jalan, penerangan, dan area parkir. Penyempurnaan sejumlah fasilitas tersebut dilakukan sebelum operasional berjalan secara penuh.
Andi Harun menyebut kapasitas fasilitas disesuaikan dengan kebutuhan awal. Pemerintah masih memiliki peluang untuk menambah sarana apabila aktivitas perdagangan berkembang dan dukungan anggaran tersedia.
“Jika antusiasme tinggi dan anggaran memungkinkan, tahun depan tentu akan ditambah fasilitasnya, karena lahan memang masih luas,” katanya.
Konsep TPI Harapan Baru tidak sebatas menyediakan tempat transaksi. Pemerintah juga mengarahkannya sebagai bagian dari proses hilirisasi sederhana hasil perikanan.
Ikan dapat ditimbang, disimpan, dikemas, dan dipasarkan dengan penanganan yang lebih baik. Pola tersebut diharapkan meningkatkan nilai jual sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi masyarakat.
TPI Harapan Baru Melengkapi Sentra Perikanan Selili
Selama ini, aktivitas perdagangan ikan di Samarinda banyak bertumpu pada TPI Selili di Kecamatan Samarinda Ilir. Kondisi tersebut membuat mobilitas komoditas perikanan dari wilayah tertentu menjadi kurang efisien.
Jarak dan biaya distribusi turut memengaruhi harga ikan yang diterima masyarakat. Kehadiran TPI Harapan Baru diharapkan dapat membagi aktivitas perdagangan dan memperpendek jalur distribusi.
Lokasi TPI yang berada di seberang sungai juga memiliki posisi strategis. Fasilitas tersebut dapat membantu mengurangi kepadatan aktivitas di satu sentra sekaligus memperluas akses perdagangan hasil perikanan.
Pemerintah menilai pengelolaan TPI harus berjalan secara profesional, efisien, dan berkelanjutan. Manfaat ekonominya diharapkan tidak hanya dirasakan nelayan dan pedagang.
Aktivitas TPI juga berpotensi menggerakkan usaha pendukung. Transportasi, distribusi, penyimpanan, pengemasan, hingga perdagangan ikan dapat menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar.
Dengan pola tersebut, pembangunan TPI tidak berhenti sebagai proyek infrastruktur. Fasilitas itu menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai ekonomi perikanan dari nelayan hingga konsumen.
Ekspor Perikanan Kaltim Capai 1.446 Ton
Penguatan perdagangan domestik berjalan bersamaan dengan peningkatan akses pasar ekspor perikanan Kalimantan Timur.
Pada semester pertama 2026, lima komoditas unggulan perikanan Kaltim tercatat mencapai volume ekspor 1.446 ton. Nilai devisa yang dihasilkan mencapai Rp192,9 miliar.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim Irma Listiawati menyebut udang windu menjadi komoditas dengan volume ekspor terbesar.
Pengiriman udang windu mencapai 863,9 ton. Komoditas berikutnya adalah udang pink beku sebanyak 268,7 ton dengan nilai Rp35,6 miliar.
Selain itu, Kaltim mengekspor ikan kerapu segar sebanyak 104,4 ton. Ekspor bawal putih mencapai 77,9 ton, sedangkan udang putih tercatat sebanyak 42 ton.
Produk perikanan Kaltim tersebut menembus pasar Jepang, Tiongkok, Amerika Serikat, Taiwan, dan sejumlah negara lainnya.
Capaian ekspor menunjukkan bahwa komoditas perikanan daerah memiliki peluang untuk bersaing di pasar internasional. Kualitas produk menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan akses tersebut.
Rantai Dingin Menjadi Kunci Mutu Produk Ekspor
Pengelolaan rantai dingin menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hasil perikanan. Penanganan harus berlangsung sejak komoditas berada di sumber hingga proses pengiriman menuju negara tujuan.
Pemerintah juga terus mendorong pemenuhan sertifikasi mutu. Langkah tersebut diperlukan agar produk perikanan memenuhi persyaratan pasar internasional.
Standar mutu yang konsisten dapat meningkatkan kepercayaan pembeli terhadap produk perikanan Kaltim. Sistem tersebut sekaligus membantu menjaga nilai ekonomi komoditas ketika memasuki pasar global.
Data ekspor tersebut memberikan gambaran bahwa hasil perikanan Kaltim tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal. Komoditas dari wilayah pesisir juga mampu menjadi sumber penerimaan ekonomi melalui perdagangan internasional.
Karena itu, penguatan infrastruktur seperti TPI, gudang pendingin, dan fasilitas pendukung memiliki hubungan penting dengan daya saing produk. Infrastruktur yang memadai membantu menjaga kualitas sekaligus memperbaiki efisiensi distribusi.
Kampung Nelayan Merah Putih Dorong Harga Ikan Lebih Adil
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga menyiapkan program Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Jembayan, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Program tersebut diarahkan untuk memperbaiki sistem perdagangan hasil tangkapan dan mengurangi ketergantungan nelayan terhadap tengkulak.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kaltim Irhan Hukmaidy mengatakan program tersebut tidak hanya berfokus pada pembangunan gedung.
Pemerintah menyiapkan ekosistem perdagangan yang mencakup pabrik es, gudang pendingin, dan koperasi. Ketiganya diharapkan dapat mendukung tata niaga hasil perikanan secara lebih terintegrasi.
Fasilitas penyimpanan dingin menjadi penting ketika hasil tangkapan meningkat. Nelayan memiliki lebih banyak pilihan untuk menyimpan ikan sehingga tidak selalu terpaksa menjual dengan harga rendah karena khawatir komoditas rusak.
Koperasi juga diharapkan berperan dalam memperkuat posisi nelayan dalam rantai perdagangan. Sistem tersebut dapat membantu menciptakan mekanisme pemasaran yang lebih terorganisasi.
Pemerintah kini mempercepat proses pembebasan lahan untuk program tersebut. Jika tahap awal di Jembayan berjalan sesuai rencana, pengembangan serupa akan diarahkan ke Kabupaten Berau.
Infrastruktur Perikanan Jadi Bagian dari Kemandirian Nelayan
Rangkaian pembangunan tersebut menunjukkan upaya pemerintah Kaltim memperkuat sektor perikanan melalui infrastruktur dan tata niaga.
TPI Harapan Baru memberikan akses perdagangan yang lebih dekat di Samarinda. Penguatan rantai dingin menjaga kualitas produk, sementara program Kampung Nelayan Merah Putih diarahkan untuk memperbaiki posisi tawar nelayan.
Ketiga langkah tersebut memiliki tujuan yang saling berkaitan. Nelayan membutuhkan fasilitas penyimpanan, akses pasar, tata niaga yang efisien, serta harga jual yang mampu memberikan keuntungan layak.
Jika pengelolaan berjalan profesional, TPI Harapan Baru berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi perikanan di Samarinda.
Pada saat yang sama, peningkatan ekspor menunjukkan peluang yang lebih luas bagi komoditas perikanan Kaltim. Tantangannya adalah menjaga mutu, memperkuat rantai pasok, dan memastikan manfaat ekonomi kembali kepada nelayan serta masyarakat pesisir.
baca juga: KKP: 15,6 ha kolam ikan budi daya di Padang Pariaman pulih September