Masyarakat Olele Olah Ijuk Menjadi Jaring Bernilai Ekonomi
Sulur tanaman oyong merambat di atas jaring berwarna hitam kecokelatan di sebuah sudut Desa Olele, Kecamatan Kabila Bone, Gorontalo. Jaring tersebut menjadi media rambat tanaman sekaligus contoh pemanfaatan ijuk untuk menghasilkan produk bernilai guna.
Jaring itu bukan terbuat dari plastik maupun kawat. Masyarakat Olele membuatnya dari ijuk, serat pohon aren yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan untuk membuat sapu, keset, atau tali.
Kini, masyarakat mulai mengolah bahan tersebut menjadi produk yang memiliki fungsi lebih luas. Ijuk dipintal menjadi tali, lalu dirangkai menjadi jaring yang dikenal sebagai green curtain.
Ijuk Diolah Menjadi Jaring Media Tanaman
Pemanfaatan ijuk menjadi green curtain berawal dari pendampingan Universitas Negeri Gorontalo melalui Program Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW) Olele 2026.
Ketua Tim PBW Olele 2026 Yayu Indriati Arifin mengatakan, persoalan utama bukan terletak pada ketersediaan bahan baku. Pohon aren masih banyak ditemukan di Gorontalo, tetapi pemanfaatan ijuk oleh masyarakat belum berkembang secara optimal.
“Jadi hampir tidak termanfaatkan. Padahal sumber pohon arennya masih ada,” kata Yayu.
Sebelum mendapat pengolahan lebih lanjut, satu lembar ijuk hanya bernilai sekitar Rp6.000. Produk tersebut juga belum selalu memiliki pembeli sehingga potensi ekonominya belum maksimal.
Pendampingan kemudian memperkenalkan teknologi pengolahan kepada masyarakat yang tergabung dalam UMKM Bunga Desa. Mereka menggunakan mesin pemintal tali ijuk sistem ganda dan alat pembuat jaring ijuk modular.
Proses produksinya dimulai dengan memintal ijuk menjadi tali. Tali tersebut kemudian dirangkai hingga membentuk jaring yang dapat digunakan sebagai media rambat tanaman.
baca juga: Aida S Budiman Mau Bawa Bank Indonesia Jadi Juara di Negara Berkembang
Pada tahap awal, masyarakat memasang enam panel jaring di tiga titik percontohan di Desa Olele. Tanaman oyong dipilih untuk mengisi jaring tersebut karena dinilai mampu beradaptasi dengan kondisi musim panas di wilayah itu.
Selain berfungsi sebagai penghijau, tanaman oyong menghasilkan bahan pangan yang dapat dipanen. Dengan demikian, jaring ijuk tidak hanya memberikan manfaat visual, tetapi juga memiliki fungsi produktif.
“Teknologinya bisa dilihat, dirawat, dipanen, dan diceritakan kembali,” ujar Yayu.
Diversifikasi Ekonomi Masyarakat Olele
Inovasi tersebut juga berkaitan dengan upaya memperluas sumber ekonomi masyarakat Olele. Selama ini, aktivitas ekonomi desa pesisir tersebut banyak bertumpu pada sektor wisata bahari.
Olele dikenal sebagai kawasan wisata dengan aktivitas snorkeling dan diving. Keindahan perairan serta kekayaan terumbu karang menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung.
Namun, potensi ekonomi Olele tidak hanya berada di wilayah pesisir. Kekayaan geologi, tanaman, dan kehidupan masyarakat juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Yayu menilai potensi geodiversity dan cultural diversity di Olele masih memiliki ruang untuk dikembangkan.
“Rata-rata masyarakat di situ hanya mengandalkan snorkeling dan diving. Padahal potensi geodiversity dan cultural diversity belum terlalu termaksimalkan,” kata Yayu.
Pengembangan produk berbahan ijuk dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan potensi daratan Olele. Masyarakat tidak hanya berperan sebagai pelaku wisata bahari, tetapi juga dapat menghasilkan produk yang berasal dari sumber daya lokal.
Keterampilan Menjadi Nilai Tambah Produk Ijuk
Pengolahan ijuk menjadi green curtain menunjukkan bahwa nilai ekonomi sebuah bahan tidak hanya ditentukan oleh bentuk mentahnya. Keterampilan masyarakat dalam mengolah dan mengembangkan fungsi bahan turut menciptakan nilai tambah.
Dalam proses tersebut, masyarakat memperoleh pengalaman mulai dari memintal ijuk, merangkai tali menjadi jaring, memasang produk, hingga merawat tanaman yang tumbuh di atasnya.
Model ini juga membuka peluang pengembangan produk turunan berbahan ijuk. Jaring dapat menjadi bagian dari penataan ruang hijau, media tanaman, maupun elemen pendukung kawasan wisata yang mengusung konsep berbasis bahan lokal.
Pemanfaatan ijuk juga memberi alternatif terhadap bahan yang sebelumnya belum memiliki pasar yang kuat. Semakin banyak fungsi yang dapat dikembangkan, semakin besar pula peluang masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip pemberdayaan masyarakat yang menempatkan warga sebagai pelaku utama. Teknologi berfungsi membantu meningkatkan kapasitas produksi, sementara keterampilan dan pengetahuan lokal tetap menjadi bagian penting dalam proses pengembangan.
Ke depan, pengembangan green curtain berbahan ijuk dapat diarahkan pada peningkatan kualitas produk, perluasan pemasaran, serta diversifikasi tanaman yang dapat ditanam.
Dengan langkah tersebut, ijuk tidak lagi sekadar menjadi bahan mentah bernilai terbatas. Masyarakat Olele mulai mengubahnya menjadi produk fungsional yang menggabungkan aspek lingkungan, keterampilan, pangan, dan peluang ekonomi lokal.
baca juga: Calon DGS BI: Stabilitas makroekonomi jadi kunci pertumbuhan ekonomi