Categories Ekonomi

Menkop Dorong Transformasi Koperasi Petani Tebu

Menkop Dorong Transformasi Koperasi Petani Tebu Perkuat Industri Gula Nasional

Koperasi Petani Tebu Didorong Lebih Profesional dan Produktif

Menteri Koperasi Ferry Juliantoro mendorong transformasi koperasi petani tebu agar memiliki tata kelola yang lebih profesional, produktif, dan mampu memperkuat ekosistem industri gula nasional. Menurutnya, koperasi memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mendukung target ketahanan pangan pemerintah.

Dorongan tersebut disampaikan Ferry dalam kegiatan “Rembuk Petani Tebu Rakyat dalam Penguatan Ekosistem Industri Gula Melalui Sinergi Koperasi Berbasis Koperasi, LPDB Koperasi dan PT PG Rajawali I dalam Mendukung dan Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Swasembada Gula Nasional se-Pulau Jawa”.

Ferry menilai transformasi koperasi petani tebu tidak dapat hanya bergantung pada kebijakan pemerintah. Perubahan tersebut harus tumbuh dari kesadaran petani dan masyarakat agar koperasi mampu berkembang secara berkelanjutan.

“Ini menjadikan transformasi koperasi ini tidak hanya dikerahkan oleh pemerintah saja, tetapi juga muncul dari bawah dari petani tebu sendiri dan dari masyarakat,” ujar Ferry.

Sinergi Koperasi, LPDB, dan Industri Gula Tingkatkan Kapasitas Petani

Ferry menyampaikan kerja sama antara koperasi petani tebu, PT PG Rajawali I, dan Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi (LPDB Koperasi) menjadi langkah penting dalam memperkuat sektor pergulaan nasional.

Menurutnya, dukungan tersebut tidak hanya berupa akses pembiayaan, tetapi juga mencakup pendampingan, pelatihan, serta peningkatan kapasitas pengelolaan koperasi.

baca juga: Pemerintah Fokus Selesaikan 23 Rekomendasi BPK

“Program ini menjadi kelanjutan dari upaya penguatan dan transformasi koperasi petani tebu agar tata kelolanya semakin baik,” kata Ferry.

Ia menjelaskan bahwa pendampingan yang diberikan LPDB Koperasi diharapkan mampu meningkatkan produktivitas petani, memperbaiki manajemen usaha, serta mendorong peningkatan volume produksi tebu rakyat.

Melalui penguatan kelembagaan koperasi, petani tebu diharapkan memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai industri gula, mulai dari proses produksi hingga pemasaran hasil panen.

Hasil Panen Petani Tebu Diserap untuk Produksi Gula Dalam Negeri

Ferry menjelaskan seluruh hasil panen tebu rakyat nantinya akan diserap oleh PT PG Rajawali I untuk diolah menjadi gula dan berbagai produk turunannya. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keterhubungan antara petani, koperasi, dan industri pengolahan.

Produk gula yang dihasilkan kemudian diharapkan dapat dipasarkan lebih luas melalui berbagai jaringan distribusi, termasuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang tengah dikembangkan pemerintah.

Menurut Ferry, penguatan rantai pasok berbasis koperasi dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi petani. Selain itu, koperasi juga diharapkan mampu tumbuh menjadi badan usaha yang modern dan kompetitif.

“Harapannya, koperasi petani tebu dapat berkembang dalam skala yang lebih besar, lebih profesional, dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi anggotanya,” ujarnya.

Pemerintah Perkuat Kolaborasi Sektor Koperasi dan Pertanian

Ferry juga mengungkapkan Kementerian Koperasi akan memperkuat kerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk mendukung pembangunan sektor pertanian secara menyeluruh.

Kolaborasi tersebut mencakup berbagai subsektor, mulai dari tanaman pangan, hortikultura, hingga perkebunan. Pemerintah berharap sinergi lintas kementerian dapat menghadirkan solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi petani.

Penguatan koperasi pertanian dinilai menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi produksi, memperluas akses pembiayaan, serta memperbaiki kesejahteraan pelaku usaha tani.

Dengan kelembagaan koperasi yang kuat, petani tidak hanya berperan sebagai produsen bahan baku, tetapi juga dapat terlibat dalam pengembangan usaha dan pengelolaan rantai nilai pertanian.

Swasembada Gula Konsumsi Jadi Langkah Menuju Kemandirian Industri

Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengatakan Indonesia telah berhasil mencapai swasembada gula konsumsi sehingga kebutuhan masyarakat tidak lagi bergantung pada impor.

Namun, pemerintah masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan gula rafinasi yang digunakan oleh sektor industri. Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi dalam negeri agar kebutuhan gula konsumsi maupun industri dapat dipenuhi secara bertahap.

Sudaryono menyebut pengembangan sektor tebu juga berkaitan dengan potensi energi terbarukan. Limbah dan produk turunan tebu dapat dikembangkan untuk mendukung sumber energi alternatif.

“Ke depan, arahan Presiden adalah bagaimana seluruh kebutuhan gula, baik konsumsi maupun gula rafinasi untuk industri, sebisa mungkin dipenuhi dari dalam negeri,” kata Sudaryono.

Melalui transformasi koperasi petani tebu, peningkatan produktivitas, serta penguatan kerja sama antara pemerintah dan industri, sektor gula nasional diharapkan semakin mandiri dan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi petani.

baca juga: Kemenkop perkuat ekosistem petani tebu Jatim, wujudkan ketahanan gula

More From Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like