sonicspirits – Sistem kelistrikan di wilayah Papua dipastikan berada dalam kondisi aman dan surplus selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Kepastian ini disampaikan Posko Nasional Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral setelah melakukan pemantauan langsung di lapangan.
Ketua Posko Nasional Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral Nataru 2025, Erika Retnowati, menjelaskan beban puncak kelistrikan di enam provinsi di tanah Papua tercatat sebesar 364,10 megawatt. Sementara itu, daya mampu pembangkit mencapai 543,58 megawatt.
Kondisi tersebut menghasilkan cadangan daya sekitar 179,48 megawatt. Cadangan ini dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat selama periode libur Natal dan Tahun Baru. Erika menegaskan pemantauan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembangkit hingga jaringan distribusi.
Menurut dia, seluruh sistem kelistrikan di Papua, termasuk di wilayah terpencil dan sistem berdiri sendiri, berada dalam kategori aman. Posko ESDM memastikan kesiapsiagaan petugas dan peralatan tetap terjaga untuk mengantisipasi gangguan selama masa liburan.
Sementara itu, General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Diksi Erfani Umar, menjelaskan bahwa Papua memiliki sistem kelistrikan paling kompleks di Indonesia. Wilayah ini saat ini mengoperasikan sembilan sistem besar dan 374 sistem kecil.
Sebagian besar sistem tersebut masih bersifat terisolasi atau belum saling terhubung. Kondisi ini menuntut pengelolaan ekstra dalam menjaga keandalan pasokan listrik, terutama saat permintaan meningkat pada periode libur panjang.
Dengan cadangan daya yang memadai dan pengawasan intensif, Posko Nasional ESDM optimistis kebutuhan listrik masyarakat Papua selama Nataru 2025/2026 dapat terpenuhi. Pemerintah dan PLN berkomitmen menjaga keandalan pasokan agar aktivitas masyarakat tetap berjalan lancar selama masa liburan.
“Baca Juga : Resmi: Stephaun Branch Gabung Bogor Hornbills”
SISTEM KELISTRIKAN PAPUA SIAP OPERASI DENGAN SEMBILAN SISTEM BESAR DAN RATUSAN SISTEM TERSEBAR
Sistem kelistrikan di Papua dipastikan siap mendukung kebutuhan listrik masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru. Kondisi ini ditopang oleh sembilan sistem besar dan ratusan sistem kecil yang tersebar di wilayah pegunungan serta pedalaman Papua.
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Diksi Erfani Umar, menjelaskan total daya mampu dari sembilan sistem besar di Papua mencapai sekitar 540 megawatt. Selain itu, terdapat ratusan sistem kecil yang melayani daerah terpencil dan wilayah dengan akses terbatas.
Menurut Diksi, kondisi geografis Papua yang menantang membuat sistem kelistrikan di wilayah ini menjadi yang paling kompleks di Indonesia. Banyak sistem masih bersifat terisolasi dan belum terhubung satu sama lain, sehingga memerlukan pengelolaan yang lebih cermat dan kesiapsiagaan tinggi.
Ia menjelaskan pembangkit utama di Papua berada di wilayah Holtekamp. Pusat pembangkit tersebut terdiri atas pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG), serta sejumlah pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang tersebar di berbagai kota.
Seluruh pembangkit tersebut saat ini berada dalam kondisi siap operasi. PLN memastikan kesiapan peralatan, pasokan bahan bakar, serta personel teknis untuk menjaga keandalan pasokan listrik selama periode libur panjang.
Dengan daya mampu yang mencukupi dan sistem pengawasan berlapis, PLN optimistis pasokan listrik di Papua tetap stabil selama Natal dan Tahun Baru. Kesiapan ini diharapkan mendukung aktivitas masyarakat, pelayanan publik, serta perayaan akhir tahun tanpa gangguan kelistrikan.
CADANGAN DAYA PAPUA AMAN, PLN PERKUAT MITIGASI RISIKO DAN INFRASTRUKTUR LISTRIK
Sistem kelistrikan di Papua berada dalam kondisi aman dengan cadangan daya mampu sekitar 35 persen. Tingkat cadangan ini dinilai sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, termasuk pada periode Natal dan Tahun Baru.
Manajemen PT PLN (Persero) memastikan kecukupan daya tersebut didukung langkah mitigasi risiko yang terencana. PLN telah melakukan pemetaan risiko berbasis geospasial untuk mengantisipasi potensi gangguan, termasuk dampak bencana alam dan cuaca ekstrem yang kerap terjadi di wilayah Papua.
Selain pemetaan risiko, PLN juga memperkuat aset-aset kritikal kelistrikan. Upaya ini mencakup peningkatan kesiapan pembangkit, jaringan transmisi, serta distribusi listrik agar tetap andal dalam berbagai kondisi. Kesiapan sumber daya manusia dan peralatan teknis turut menjadi fokus utama dalam menjaga kontinuitas layanan.
Koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan instansi terkait, terus dilakukan. Sinergi ini bertujuan memastikan pemulihan kelistrikan dapat berlangsung cepat dan efektif apabila terjadi gangguan di lapangan.
Tidak hanya pada aspek pasokan listrik, PLN juga melaporkan perkembangan infrastruktur kendaraan listrik di Papua. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mendukung transisi energi dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik di wilayah timur Indonesia.
Dengan cadangan daya yang aman, mitigasi risiko yang matang, serta penguatan infrastruktur, PLN optimistis sistem kelistrikan Papua mampu mendukung aktivitas masyarakat dan pembangunan daerah secara berkelanjutan.
“Baca Juga : Peserta Mandalika Last Sunday Galang Donasi Korban Banjir”