Categories Ekonomi

PT KAEF Targetkan Eliminasi TB 2030 Terintegrasi

Kimia Farma Perkuat Layanan Terintegrasi untuk Percepat Eliminasi TB 2030

KAEF Integrasikan Produksi Obat hingga Layanan Kesehatan Tangani TB

PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) memperkuat perannya dalam mendukung program kesehatan nasional dengan membangun ekosistem layanan terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk mempercepat eliminasi Tuberkulosis (TB) pada 2030.

Perusahaan farmasi pelat merah tersebut mengoptimalkan seluruh rantai nilai, mulai dari produksi bahan baku obat, manufaktur obat jadi, distribusi, hingga layanan kesehatan. Langkah ini menjadi bagian dari dukungan terhadap target pemerintah mewujudkan Indonesia bebas TB pada 2050.

Direktur Komersial KAEF Hanadi Setiarto mengatakan integrasi ekosistem menjadi keunggulan perusahaan dalam mendukung program penanggulangan TB secara menyeluruh.

“KAEF memiliki ekosistem terintegrasi end-to-end dari produksi, distribusi, hingga layanan kesehatan untuk mendukung kesehatan nasional, termasuk eliminasi TB di tahun 2030,” ujar Hanadi dalam keterangannya di Jakarta.

Portofolio Obat TB KAEF Mendukung Kebutuhan Terapi Nasional

Berdasarkan Global TB Report 2024 dan data Kementerian Kesehatan Indonesia 2025, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pengendalian TB. Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus TB tertinggi kedua di dunia setelah India.

Data tersebut memperkirakan terdapat sekitar 1,09 juta kasus TB di Indonesia dengan angka kematian mencapai sekitar 125 ribu kasus setiap tahun. Kondisi ini membuat penguatan sistem pencegahan, diagnosis, dan pengobatan menjadi prioritas nasional.

baca juga: Kimia Farma perkuat produksi bahan baku obat dalam negeri

Untuk mendukung upaya tersebut, KAEF menyediakan berbagai portofolio obat penanggulangan TB yang mencakup kebutuhan pasien TB Sensitif Obat (Drug Sensitive TB/DS-TB) maupun TB Resisten Obat (Drug Resistant TB/DR-TB).

Sejumlah produk telah tersedia dalam bentuk kombinasi dosis tetap atau Fixed-Dose Combination (FDC). Formulasi tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan efektivitas terapi, termasuk bagi pasien dewasa maupun anak-anak.

Selain menyediakan terapi yang sudah berjalan, KAEF juga terus mempersiapkan inovasi pengobatan TB sesuai perkembangan kebutuhan medis. Salah satunya melalui produk anti-infeksi TB Moxifloxacin yang telah diluncurkan sejak 2025.

Kapasitas Produksi dan Distribusi KAEF Perkuat Kemandirian Farmasi

Dari sisi hulu, KAEF mengandalkan fasilitas produksi modern yang berada di Jakarta dan Banjaran. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi lebih dari 500 juta tablet per tahun untuk memenuhi kebutuhan obat nasional.

Kemampuan produksi dalam negeri ini tidak hanya bertujuan memastikan ketersediaan obat, tetapi juga memperkuat kedaulatan industri farmasi Indonesia. Selain itu, kapasitas tersebut membantu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan obat maupun bahan baku dari luar negeri.

KAEF juga mendukung percepatan deteksi TB melalui penyediaan infrastruktur diagnostik. Perusahaan berkontribusi dalam penyediaan alat uji TB LAMP serta mendukung skrining berbasis X-Ray untuk mempercepat identifikasi kasus di masyarakat.

Dalam aspek distribusi, KAEF memanfaatkan jaringan 44 cabang di berbagai wilayah Indonesia. Jaringan tersebut mendukung penyaluran obat program JKN dan kebutuhan logistik TB agar dapat menjangkau masyarakat secara aman dan merata, termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Jaringan Layanan Kesehatan KAEF Dukung Kepatuhan Pengobatan TB

Pada sektor hilir, KAEF mengembangkan jaringan layanan kesehatan yang mencakup lebih dari 1.000 apotek, lebih dari 350 klinik kesehatan, dan 65 laboratorium medis.

Jaringan tersebut berperan sebagai fasilitas pendukung dalam penanganan TB terpadu. Layanan yang diberikan mencakup pendampingan terapi, konsultasi tenaga farmasi, pengelolaan rujukan klinis, serta pemantauan kepatuhan pasien selama menjalani pengobatan.

KAEF juga mengintegrasikan data pasien dengan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Kementerian Kesehatan. Integrasi data ini membantu memperkuat pemantauan kasus dan mendukung pengambilan keputusan berbasis informasi yang lebih akurat.

Hanadi menegaskan bahwa penguatan rantai nilai dari produksi hingga layanan kesehatan merupakan bentuk kontribusi perusahaan sebagai mitra strategis pemerintah.

“Integrasi end-to-end value chain ini adalah kontribusi KAEF sebagai mitra strategis pemerintah untuk mewujudkan target eliminasi TB pada tahun 2030 dan bebas TB pada tahun 2050,” katanya.

Peran Strategis KAEF dalam Mendukung Agenda Kesehatan Nasional

Upaya eliminasi TB menjadi bagian dari agenda pembangunan kesehatan nasional yang juga sejalan dengan visi pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Penanggulangan TB tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan masyarakat, tetapi juga memiliki dampak terhadap produktivitas tenaga kerja, perlindungan sosial, pembiayaan kesehatan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Dalam kerangka Astacita Presiden Republik Indonesia, percepatan penanganan TB menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

Melalui penguatan produksi obat, distribusi yang merata, layanan kesehatan terintegrasi, serta dukungan teknologi diagnostik, KAEF menargetkan dapat terus berkontribusi dalam mempercepat pencapaian eliminasi TB Indonesia pada 2030 dan mewujudkan bebas TB pada 2050.

baca juga: OJK: Risiko Siber dan AI Jadi Tantangan Baru Tata Kelola Sektor Keuangan

More From Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like