sonicspirits –Hungaria secara terbuka menyerukan Uni Eropa untuk mengikuti langkah Amerika Serikat dengan melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia. Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto menyampaikan desakan ini pada Jumat (13/3/2026) sebagai respons atas keputusan Washington yang mengizinkan penjualan minyak mentah dan produk petroleum Rusia yang dimuat ke kapal mulai 12 Maret 2026. Izin ini tertuang dalam lisensi umum dari Kantor Pengawasan Aset Asing AS (OFAC) . Kebijakan AS diperkirakan akan memengaruhi sekitar 100 juta barel minyak Rusia yang masih dalam proses pengiriman .
“Solusinya terletak pada apa yang dilakukan Amerika: kita tidak boleh menuruti keinginan Zelenskyy, sanksi terhadap minyak Rusia harus dicabut, dan sumber daya energi Rusia harus diizinkan kembali ke pasar Eropa,” kata Szijjarto dalam pesan video di media sosial. Ia menegaskan bahwa Brussel belum mengambil langkah serupa dan Hungaria “menuntut agar Brussel, seperti halnya Amerika, juga menangguhkan sanksi terhadap minyak Rusia” .
Seruan ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi terkait pipa minyak Druzhba yang menjadi jalur utama pasokan minyak Rusia ke Hungaria dan Slovakia. Aliran minyak melalui pipa tersebut terhenti sejak 27 Januari 2026 akibat serangan drone Rusia yang merusak infrastruktur di Ukraina . Kyiv menegaskan perbaikan sulit dilakukan karena kondisi berbahaya di lokasi, sementara Budapest dan Bratislava menuduh Ukraina sengaja menunda pemulihan aliran minyak untuk alasan politik .
Hungaria dan Slovakia merupakan dua negara UE yang masih mendapatkan pengecualian untuk mengimpor minyak Rusia via pipa. Data menunjukkan Rusia memasok 87 persen kebutuhan minyak mentah kedua negara tersebut pada 2024, lebih tinggi dibandingkan sebelum perang . Laporan Centre for the Study of Democracy menyebut ketergantungan ini lebih merupakan pilihan politik daripada kebutuhan, karena kedua negara memiliki akses ke jalur alternatif seperti pipa Adria dari Kroasia yang mampu memenuhi kebutuhan domestik .
Sengketa pipa Druzhba ini telah memicu krisis diplomatik lebih luas. Hungaria memblokir paket sanksi ke-20 Uni Eropa terhadap Rusia dan pinjaman 90 miliar euro untuk Ukraina . Slovakia juga mengancam akan menghentikan pasokan listrik darurat ke Ukraina jika aliran minyak tidak segera pulih . Batas waktu pembaruan sanksi individual UE terhadap lebih dari 2.700 individu dan entitas Rusia jatuh pada 15 Maret 2026. Jika tidak diperpanjang dengan suara bulat, sanksi akan otomatis berakhir .
Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban, yang menjadikan isu perang sebagai bagian kampanye pemilu 12 April, menuduh Kyiv melakukan “tindakan permusuhan tanpa provokasi” . Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa kembali ke energi Rusia akan menjadi “kesalahan strategis” karena hanya akan memperkuat kapasitas Moskow membiayai perang . Para menteri luar negeri Jerman dan Polandia juga mendesak Hungaria untuk menunjukkan solidaritas kepada Ukraina .
Di tengah tekanan ini, Presiden Rusia Vladimir Putin justru menyatakan kesiapan untuk melanjutkan ekspor bahan bakar fosil ke Eropa, “bebas dari tekanan politik” . Kremlin melihat peluang di tengah krisis energi yang dipicu konflik di Timur Tengah. Dengan harga minyak melonjak, relaksasi sanksi berpotensi meningkatkan pendapatan ekspor Rusia secara signifikan .
Keputusan akhir ada di tangan para menteri luar negeri UE yang dijadwalkan kembali bertemu untuk mencari solusi atas kebuntuan ini. Masa depan sanksi terhadap Rusia dan paket bantuan untuk Ukraina kini bergantung pada penyelesaian sengketa pipa Druzhba yang sarat kepentingan politik dan ekonomi.
“Baca Juga : Marciano: Semua Arena PON Dibiayai APBD”
Hungaria Gunakan Hak Veto UE, Blokir Sanksi Rusia dan Pinjaman Rp1.700 Triliun untuk Ukraina Imbas Sengketa Minyak
Hungaria secara resmi menggunakan hak vetonya untuk memblokir paket sanksi ke-20 Uni Eropa terhadap Rusia. Budapest juga menahan paket bantuan pinjaman senilai 90 miliar euro atau sekitar Rp1.700 triliun untuk Ukraina. Langkah ini diambil sebagai bentuk tekanan agar Kiev segera memulihkan pasokan minyak Rusia melalui pipa Druzhba yang terhenti sejak 27 Januari 2026 .
Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyetujui kebijakan apa pun yang penting bagi Ukraina sebelum pasokan minyak pulih. “Kami tidak akan menyetujui adopsi paket sanksi ke-20, karena kami telah menjelaskan sebelumnya bahwa sampai Ukraina melanjutkan pengiriman minyak ke Hungaria, kami tidak akan mengizinkan keputusan penting bagi mereka untuk disetujui,” ujarnya dalam pesan video di media sosial .
Keputusan ini memicu krisis diplomatik di Brussel. Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas menyatakan penyesalan mendalam karena paket sanksi yang ditargetkan bertepatan dengan peringatan empat tahun invasi Rusia pada 24 Februari gagal disahkan. “Saya sangat menyesal kami tidak mencapai kesepakatan hari ini,” ujarnya . Sementara Menteri Luar Negeri Swedia Maria Malmer Stenergard menyebut veto Hungaria sebagai “aib” dan “memalukan” .
“Kami telah memberikan tanggapan yang tegas dan proporsional kepada Presiden Zelenskyy. Dia juga harus mengerti: dengan menyerang Hungaria, dia hanya bisa kalah,” tulis Orban di media sosial . Tuduhan ini muncul di tengah kampanye pemilu Hungaria yang akan digelar 12 April 2026, di mana Orban menjadikan isu perang sebagai senjata politik utama .
Kementerian Luar Negeri Ukraina dengan tegas menolak “ultimatum dan pemerasan” oleh Hungaria dan Slovakia. Dalam pernyataan resmi, Kiev menyebut kedua negara “bermain ke tangan agresor” karena tindakan mereka dinilai provokatif, tidak bertanggung jawab, dan mengancam keamanan energi seluruh kawasan di tengah serangan rudal Rusia yang masif .
Keputusan final ada di tangan para menteri luar negeri UE yang terus berupaya mencari solusi atas kebuntuan ini. Masa depan sanksi terhadap Rusia dan paket bantuan miliaran euro untuk Ukraina kini bergantung pada penyelesaian sengketa pipa Druzhba yang sarat kepentingan politik dan ekonomi. Jika tidak ada kesepakatan, sanksi individual UE terhadap lebih dari 2.700 individu dan entitas Rusia berisiko tidak diperpanjang dan otomatis berakhir .
“Baca Juga : Ngannou Kembali ke Arena MMA Setelah Absen 19 Bulan”